TANYALAH HATI NURANIMU

Rasulullah SAW bersabda; "Tanyakan pada hatimu sendiri! Kebaikan adalah apa yang jiwa dan hati tenang karenanya, sedangkan dosa adalah sesuatu yang menimbulkan keraguan dalam jiwa dan rasa gundah dalam dada, meskipun orang-orang memberi fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya." [HR Imam Ahmad bin Hanbal]

MENGAPA AKU BELAJAR AL-QURAN?

Rasulullah SAW bersabda; "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya. - Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya Al-Quran itu pada hari Kiamat akan memberikan syafa’at kepada pembacanya" [HR. Bukhari - Muslim]

RAHASIA DI SEKITAR DUNIA IBUKU

Rasulullah SAW bersabda; "Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: masuklah engkau dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai." [HR Imam Ahmad bin Hanbal]

SUDAH BAIKKAH SHALATKU?

Rasulullah SAW bersabda: "Yang pertama kali akan dihisab dari seseorang pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik, akan baik pula seluruh amalnya. Jika shalatnya rusak akan rusak pula seluruh amal perbuatannya." [HR. At-Thabrani - Dari Anas RA]

AJARI KAMI ILMU YANG BAIK

Rasulullah SAW bersabda; "Mendidik anak lebih baik bagimu daripada setiap hari bersedekah satu sha - Tidak ada pemberian seorang ayah untuk anaknya yang lebih utama daripada (pendidikan) akhlak yang baik." [HR. At-Tirmidzi Dari Jabir bin Samurah r.a dan Amr bin Sa’id bin Ash r.a]

Tampilkan postingan dengan label Tazkiyatun Nufus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tazkiyatun Nufus. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 September 2010

PENTINGNYA TAZKIYATUN NUFUS


Segala puji bagi Allah Yang membaguskan susunan ciptaan-Nya, Yang menciptakan langit dan bumi, mengatur rezeki dan makanan, Yang menghidupkan dan mematikan, serta Yang memberi pahala atas perbuatan-perbuatan baik. Shalawat dan salam bagi junjungan kita, Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, beserta ahlul baitnya, para shahabat salaffus Shalih serta pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.


URGENSI TAZKIYATUN NUFUS

Rasulullah bersabda, "Ada 3 hal, siapa saja yang melakukan tiga hal itu, maka dia akan merasakan nikmatnya kehidupan beriman; Beribadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla dengan mengikrarkan bahwa "Tiada Tuhan yang haq di-ibadahi melainkan Dia (Allah)", menunaikan zakat hartanya yang baik menurut ukuran dirinya setiap tahun, dia tidak memberikan yang tua sekali, tidak yang kotor dan tidak yang sakit, tetapi yang (dia berikan adalah) hartanya yang sedang-sedang saja, karena Allah tidak meminta harta kalian yang terbaik dan juga tidak memerintakan agar kalian (mengeluarkan) yang jelek, dan..., mensucikan dirinya."

Kemudian ada seseorang bertanya, "Ya Rasulullah!, apakah tazkiyatun nufus (menyucikan diri) itu?" 

Beliau menjawab, "Hendaklah dia mengetahui (menyadari) bahwa Allah bersamanya di mana pun dia berada". [HR. ath-Thabrani & al-Baihaqi dishahihkan oleh Syaikh al-Albany]

Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam menyebutkan dalam hadits di atas bahwa salah satu dari tiga hal yang mengantarkan seseorang mencapai gerbang kenikmatan hidup dalam naungan iman adalah dengan melakukan Tazkiyatun Nufus.

Beliau telah menafsirkan makna tazkiyatun nufus tersebut dengan merealisasikan tingkatan agama Islam yang paling tinggi yaitu "maqom ihsan" (yakni mengabdi kepada Allah dengan keyakinan bahwa Dia Maha Melihat & Maha Teliti terhadap apa yang dirahasiakan dan apa yang ditampak kan oleh hamba-Nya. Meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui yang batin dan yang lahir, serta yakin bahwa tidak ada satu pun yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya).

Tentang urgensi tazkiyatun nufus ini, tidak dapat disangkal dan diragukan lagi. Hal ini sangat penting untuk diketahui serta direnungkan oleh setiap muslim. Sebab kesuksesan dan kebahagiaan dirinya baik di dunia maupun di akhirat tergantung pada "kesucian jiwanya", sebagaimana firman Allah:

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَإِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
"(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. as-Syu'arâ’ [26]:88-89).

Karena sangat pentingnya 'tazkiyatun nufus' ini, maka Allah Tabaraka wata'ala menjelaskan hal itu di banyak ayat dalam al-Qur'an al-Karim.

Allah SWT telah bersumpah sebanyak 11 kali berturut-turut dalam surat asy-Syams:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَاوَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَاوَالنَّهَارِ إِذَا جَلَّاهَاوَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَاوَالسَّمَاء وَمَا بَنَاهَاوَالْأَرْضِ وَمَا طَحَاهَا وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَافَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَاقَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَاوَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
"Demi matahari dan (demi) cahayanya di pagi hari, demi bulan apabila mengiringinya, demi siang apabila menampakkannya, demi malam apabila menutupinya, demi langit dan (demi) pembinaannya, demi bumi dan (demi) penghamparannya, dan demi jiwa serta (demi) penyempurnaan ciptaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan, sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya." (QS. asy-Syams [91]:1 - 10).

Demikian pula yang Allah jelaskan dalam firman-Nya yang lain,

قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىوَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى
"Sungguh beruntung orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat (menyebut) nama Rabbnya, lalu dia shalat". (QS. Al-A’la[87]:14-15).

Seluruh nabi dan rasul menyeru kaumnya untuk menyucikan jiwa mereka dari kotoran syirik, kezhaliman, kefasikan, dosa dan kemaksiatan.

Lihatlah Nabi Allah Musa 'alaihis salam yang mengajak Fir'aun untuk melakukan tazkiyatun nufus, agar terkikis habis dari diri Fir'aun kepongahan dan kesombongan, bahkan karena sangat kotornya jiwa Fir'aun sehingga dia menganggap bahwa dirinya adalah Tuhan yang harus disembah oleh rakyatnya.

Kisah diatas bisa kita temukan dalam Al-Qur'an sebagai berikut,

وَأَهْدِيَكَ إِلَى رَبِّكَ فَتَخْشَىفَأَرَاهُ الْآيَةَ الْكُبْرَى
"Dan katakanlah (olehmu wahai Musa kepada Fir'aun), "Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan dirimu (dari kesesatan), dan engkau akan kubimbing ke jalan Rabbmu agar supaya engkau takut kepada-Nya, Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mu'jizat yang besar, tetapi Fir'aun mendustakan dan mendurhakainya, kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa)."  (QS. an-Nâzi'ât [79]: 19-21).

Bahkan tugas terpenting yang Allah bebankan di atas pundak Nabi agung, Muhammad Shallallahu alaihi wassalam adalah men-sucikan jiwa ummatnya.

Dapat kita lihat penjelasan al-Qur'an berkenaan dengan hal itu dalam surat al-Jumu'ah,

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ
الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ 
"Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang (tugasnya adalah) membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menuyucikan mereka dan mengajarkan mereka Al-Kitab (Al-Qur'an) dan Al-Hikmah(As-Sunnah), dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS. al-Jumu'ah [62]:2).

Marilah kita menyucikan jiwa kita! Karena siapa yang mau mensucikan jiwanya, maka jaminan Allah atas dirinya adalah menjadi penghuni surga yang didambakan oleh setiap hamba-hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya,

وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِناً قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُوْلَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَى
جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاء مَن تَزَكَّى 
"Dan siapa saja yang mendatangi-Nya dalam keadaan beriman, dan bersungguh-sungguh melakukan amal-amal shalih, maka mereka memperoleh derajat yang tinggi (mulia); (yaitu) surga 'Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya dan itu adalah balasan bagi orang yang membersihkan dirinya (dari kekufuran, kemusyrikan dan kemaksiatan)." (QS. Thahâ[20]:75-76).

Di antara do'a yang sering dipanjatkan oleh Rasulullah adalah, "Ya Allah anugerahi kepada jiwaku ketaqwaan, sucikanlah dia (jiwaku) karena Engkaulah sebaik-baik Dzat yang menyucikannya, Engkaulah wali dan penolongnya" [HR. Muslim].

SARANA DAN MEDIA TAZKIYATUN NUFUS

1. Merealisasikan Tauhid. 
Ini hal yang paling penting dalam melakukan Tazkiyatun Nufus, sebagaimana dijelaskan oleh al-Qur'an;

وَوَيْلٌ لِّلْمُشْرِكِينَ
الَّذِينَ لَا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُم بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ
"Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menyekutukan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat (tauhid) dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat." (QS. Fushshilat [41]:6-7).

Ibnu Abbas menjelaskan makna zakat dalam ayat tersebut dengan makna tauhid (Shafwatut Tafasir, Ali ash-Shabuni, jilid 3 hal 116).

Yaitu mengikrarkan syahadat lâ ilâha illallâh, sebab dengan mengikrarkan hal itu akan menyucikan hati, karena kandungan kalimat tauhid tersebut adalah mengikis habis dan mengosong kan dari lubuk hati kita segala bentuk tuhan yang bathil. Artinya menyucikan hati kita dari segala kotoran syirik, lalu kita penuhi isi hati kita dengan menetapkan Allah sebagai satu-satunya Dzat yang kita ibadahi dan yang kita sembah. Kita menyucikan hati kita dengan menauhidkan Allah, dan inilah dasar, pondasi, serta azaz penyucian jiwa. Tanpa tauhid seseorang tidak akan bisa menyucikan jiwanya. Tauhid adalah suci, sedangkan syirik adalah kotoran dan najis, dua hal yang kontradiktif yang mustahil bersatu.

2. Menjaga Amalan Hati
Yakni tetap  ikhlas, cinta, takut, harapan, tawakkal, sabar, ridha, tunduk, patuh dan lain-lain.

Perlu diketahui bahwa amalan hati jauh lebih utama daripada amalan lahiriah, karena amalan lahiriah adalah cerminan hati, kalau hatinya bersih akan menampil kan amalan yang bersih dan begitu pula sebaliknya.

3. Menunaikan shalat.
Shalat adalah realisasi tauhid yang paling utama, sebab shalat itu menyucikan jiwa kita dari segala kotoran dosa dan maksiat. Rasulullah menjelaskan hal itu dalam hadits berikut,

"Bagaimana menurut kalian kalau sebuah sungai ada di depan pintu rumah salah seorang di antara kalian (dan) dia mandi di situ 5 kali dalam sehari, apakah menurut kalian masih ada kotoran yang menempel pada tubuhnya?” Mereka menjawab, “Tentu tidak ada”. Lalu beliau bersabda, “Demikian halnya dengan shalat yang lima waktu, yang dengannya Allah membersihkan dosa-dosa yang diperbuatnya". (HR. al-Bukhari dan Muslim).

4. Bersedekah.
Allah SWT berfirman,
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdo'alah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. At-Taubah [9]:103).

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa bershadaqah membersihkan dan menyucikan dari dosa-dosa mereka yang telah lalu.

5. Melaksanakan perintah dan menjauhi segala larangan Allah dan Rasul-Nya.
Allah SWT telah berfirman,
قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (QS. An-Nur [24]:30).

Allah menjelaskan bahwa orang yang melaksanakan perintah-Nya adalah yang mau menyucikan jiwanya sehingga Allah memuji mereka..

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَاوَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
"Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya." (QS. Asy-Syams [91]:9-10).

6. Bermuhasabah.
Rasulullah SWT bersabda,
"Seorang yang cerdik adalah orang yang mengoreksi diri dan beramal untuk menghadapi kematiannya" [HR.Ahmad].

Hasan Al-Bashri mengatakan, "Seorang mukmin adalah pemimpin atas dirinya sendiri dan mengoreksi dirinya karena Allah."



[Dari: Abu Abdillah Dzahabi]

Jumat, 03 September 2010

KEUTAMAAN DAN ETIKA SALAM




Kalau orang mau memperhatikan syariat Islam dan seluruh ajarannya, maka dia akan mendapati bahwa keseluruhannya tidak lain adalah untuk kemashlahatan (kebaikan) dan kebahagiaan manusia, termasuk juga anjuran menebarkan salam..

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi*). Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya"*). (QS al-Ahzab [33]:56)

Keterangan:
"Bershalawat" artinya: kalau dari Allah berarti memberi rahmat;  dari malaikat berarti memintakan ampunan dan kalau dari orang-orang mu'min berarti berdo'a supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan: "Allahuma shalli ala Muhammad", sedangkan ucapan salam dengan mengucapkan perkataan seperti: "Assalamu'alaika ayyuhan Nabi" artinya: semoga keselamatan tercurah kepadamu hai Nabi.]

I. KEUTAMAAN SALAM

Mengucapkan salam merupakan salah satu perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya Shallallaahu alaihi wa Sallam, sebagaimana dalam hadits Barra’ bin Azib, ia berkata:

“Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam memerintahkan kami untuk melakukan tujuh perkara, yaitu;
  • melayat dan memandikan jenazah,
  • mengiringi jenazah ke pekuburannya,
  • mendo’akan orang bersin yang mengucapkan alhamdulillah,
  • membantu orang yang lemah,
  • menolong orang yang dizhalimi,
  • mengucapkan salam dan
  • memenuhi sumpah.” (Muttafaq alaih).

MENIMBULKAN KASIH SAYANG ANTAR SESAMA

Menebarkan salam akan menimbulkan rasa saling berkasih sayang diantara sesama sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a., katanya:

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak akan masuk surga sampai kamu beriman, dan tidak beriman sehingga kamu saling mencintai. Dan maukah aku tunjukkan suatu perbuatan yang bisa membuatmu saling mencintai; yaitu tebarkan salam antar sesamamu.” [HR. al Bukhari - Muslim].


MERUPAKAN AMALAN YANG TERBAIK DALAM ISLAM

Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra, seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam: “Apakah amalan yang paling baik dalam Islam?” Beliau menjawab: “Memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang telah kamu kenal maupun yang belum kamu kenal”. (HR. al Bukhari - Muslim).> Mendapatkan berkah dan kebaikan dari Allah,

Sebagaimana firman-Nya:


فَإِذَا دَخَلْتُم بُيُوتاً فَسَلِّمُوا عَلَى أَنفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِندِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُون
"Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya". (QS An-Nuur [24]:61)

 TERMASUK PERBUATAN YANG DAPAT 
MENGANTAR PELAKUNYA KE SURGA

Abu Yusuf Abdullah bin Salam Radhiallaahu anhu berkata; saya pernah mendengar Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: ”Wahai manusia, tebarkanlah salam, berikanlah makan, lakukan silaturrahim, dan shalatlah ketika orang lain tidur malam, maka engkau akan masuk ke surga dengan selamat.” [HR. At Tirmidzi, dia berkata: “hasan shahih”].

II. CARA MENGUCAPKAN SALAM

Imam an-Nawawi berkata; Disunahkan untuk memulai salam dengan mengucapkan: “Assalaamu‘alaikum warahmatullah”, dengan memakai dhamir jamak (kum), sekalipun sendirian. Dan menjawabnya dengan ucapan ”Wa’alaikumus-salam warahmatullah wabarakatuh”, dengan menambah “wa” pada kata wa’alaikum. [Riyadhush-shalihin halaman 290].
  • Orang yang mendapatkan salam, wajib menjawabnya dengan yang lebih baik atau semisal dengan salam yang dia terima.

Sebagaimana firman Allah SWT:

وَإِذَا حُيِّيْتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّواْ بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيباً
“Apabila kamu diberi hormat (salam), maka hendaklah engkau menjawabnya dengan salam yang lebih baik atau yang serupa dengan yang diucapkannya.” (QS An-Nisa; 86)

Apabila mendatangi para sahabat, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam mengucapkan salam sampai tiga kali [HR. al Bukhari dari Anas bin Malik].

Imam an Nawawi mengomentari hadits ini dengan mengatakan; "hal ini mungkin dilakukan karena sahabat dalam jumlah yang besar". [Riyadhush-shalihin halaman 290].
  • Orang yang mengendarai kendaraan mengucapkan salam kepada yang berjalan kaki. 
  • Yang berjalan kaki mengucapkan salam kepada yang duduk. 
  • Dan yang sedikit mengucapkan salam kepada yang banyak, dan, 
  • yang kecil (muda) mengucapkan salam kepada yang besar (tua).
sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh al Bukahri dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu.

Mengucapkan salam dengan suara sebatas yang bisa didengar oleh orang yang diberikan salam, sebagai-mana yang diriwayatkan oleh Miqdad beliau berkata; "kami menyediakan susu untuk Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, beliau datang di waktu malam dan mengucapkan salam yang bisa didengar oleh orang yang terjaga dan tidak membuat orang yang tidur terbangun". (HR. Muslim).

TIDAK BOLEH MEMULAI SALAM KEPADA ORANG KAFIR

Orang-orang yang datang kepada kita, baik dari timur maupun dari barat yang non muslim, tidak halal bagi kita untuk memulai mengucapkan salam kepada mereka, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Janganlah kalian memulai kepada kaum yahudi dan jangan pula kaum nashrani dengan ucapan salam “[Hadits Riwayat Muslim dalam As-Salam 2167]

Tapi jika mereka lebih dahulu mengucapkan salam kepada kita, maka hendaklah kita megucapkan seperti salam mereka kepada kita, hal itu berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

"Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa)” (QS An-Nisa [4] : 86]

Ucapan salam mereka dengan ungkapan salam Islam “Assalamu ‘alaikum” tidak terlepas dari dua hal.
Pertama: Mereka jelas-jelas mengucapkan dengan adanya salam yaitu, “Assalamu ‘alaikum (semoga kesejahteraan bagimu), maka kita boleh mengucapkan ‘Alaikumus salam atau wa alaikum (semoga juga bagimu).

Kedua: Jika mereka tidak jelas mengucapkan salam, misalnya mereka mengucapkan, “Assamu ‘alaikum” (semoga kematian menimpamu), maka kita mengucapkan, “wa ‘alaikum” (juga menimpamu). [Muttafaq Alaih].
Demikian ini, karena dulu kaum Yahudi pernah datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengucapkan salam kepada beliau dengan ucapan, “Assamu ‘alaikum”, mereka tidak jelas mengucapkan lam. As-Sam artinya al-maut (kematian), maksudnya mereka mendo’akan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mati. Karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengucapkan pada mereka, “wa ‘alaikum”. Jadi, jika mereka mengucapkan, “Assamu ‘alaikum” maka kita membalas dengan ucapan, “wa ‘alaikum”, maksudnya, semoga kematian itu menimpa kalian pula.

Dan jika mereka mengucapkan salam kepada kita, cukup dijawab dengan ucapan “Wa’alaikum” (Muttafaq alaih). Apabila di sebuah majlis bercampur antara orang muslim dan non muslim maka boleh mengucapkan salam, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam ketika melewati sebuah majlis yang di sana ada orang muslim, musyrik, penyembah patung, beliau memulai mengucapkan salam. (Muttafaq Alaih).
  • Adapun memulai salam kepada mereka dengan ucapan salam, maka ini telah dilarang oleh Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam

III. WAKTU MENGUCAPKAN SALAM
  • Ketika bertemu dengan orang lain baik yang sudah dikenal maupun yang belum. Dan yang lebih baik adalah orang yang pertama memulai, sebagaimana hadits Abi Umamah al-Bahili, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda;
“Sesungguhnya orang yang lebih baik di sisi Allah adalah yang memulai mengucapkan salam.
[HR. Abu Daud dengan sanad yang baik]

Dalam riwayat lain, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda:
“Apabila kamu bertemu dengan saudaramu maka ucapkanlah salam, Jika terhalang dengan pohon, tembok atau batu, maka ucapkan salam ketika menemuinya”. [HR. Abu Daud dengan sanad yang shahih].
  • Mengucapkan salam juga disunahkan ketika bertemu dengan anak kecil sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam, beliau mengucapkan salam kepada anak kecil (Muttafaq alaih).
Imam al Bukhari dalam kitabnya al Adabul Mufrad menyebutkan bahwa Salamah bin Wirdan berkata; "Saya melihat Anas bin Malik menyalami orang-orang dan berkata kepadaku: “Siapa kamu?” Saya menjawab: “Saya seorang anak dari Bani Laits”, kemudian beliau mengusap kepalaku tiga kali dan berkata; “Semoga Allah memberkati-mu.” [Imam Albani berkata sanadnya hasan].
  • Juga boleh mengucapkan salam kepada wanita, baik yang mahram maupun orang lain selama tidak menimbulkan fitnah. Sebaliknya wanita juga boleh mengucapkan salam kepada laki-laki seperti yang dilakukan oleh Umi Hani, ia mengucapkan salam kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam di waktu terjadinya penaklukan kota Makkah. [HR. Muslim].
  • Ketika akan memasuki rumah orang lain.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتاً غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu masuk ke rumah orang lain, hingga kamu minta izin dan mengucapkan salam kepada penghuni-nya”. (QS.An-Nur 24]; 27).
  • Juga ketika memasuki rumah sendiri.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat An-Nur ayat 61.

فَإِذَا دَخَلْتُم بُيُوتاً فَسَلِّمُوا عَلَى أَنفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِندِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُون
"Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya". (QS An-Nuur [24]:61)
  • Ketika masuk dan keluar dari sebuah majelis
Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda:

”Apabila seorang masuk ke sebuah majlis maka hendaknya mengucapkan salam. Dan jika dia mau pergi hendaklah mengucapkan salam, tidaklah (salam) yang pertama tadi lebih berhak (untuk diucapkan) daripada yang akhir.”. [HR. Abu Daud, Imam al Albani berkata; hadits hasan dan shahih]. Maksudnya, kedua salam tersebut sama haknya untuk diucapkan.
  • Apabila ada orang yang menitipkan salam, maka yang menerima titipan salam tersebut mengatakan “Wa’alaihis-salam warahmatullahi wabara-kaatuh”. Sebagaimana yang dilakukan Aisyah ra ketika menerima titipan salam dari Jibri as lewat Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam. [HR.al Bukhari- Muslim].




Rujukan: 1. Riyadhus Shalihin, oleh Abu Dzakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi, 2. Kitabul Adab oleh Fu’ad bin Abdul ‘Aziz al Syalhub. (Nurul Mukhlisin)

Kamis, 02 September 2010

ADAB MEMBERI SALAM



MENGUCAPKAN SALAM, merupakan salah satu hak seorang muslim terhadap muslim lainnya. Sebagaimana sabda Rasulullah:
Hak seorang muslim terhadap seorang muslim enam perkara.” 
Lalu beliau ditanya: “Apa saja ya Rasulullah?” Maka beliau saw. Menjawab, 
(1) Bila engkau bertemu (berpapasan)dengannya maka uapkanlah salam kepadanya. 
(2) Bila dia mengundangmu, penuhilah undangannya. 
(3) Bila dia meminta nasihat, berilah dia nasihat. 
(4) Bila dia bersin lalu dia membaca tahmid, do’akanlah semoga dia beroleh rahmat. 
(5) Bila dia sakit, kunjungilah dia. 
(6) Dan bila dia meninggal, ikutlah mengantar jenazahnya ke kubur.” 

[Shahih Muslim, Hadits No.2025]

Salam yang kita ucapkan kepada orang lain dapat membuahkan rasa kasih sayang antar sesama. Sebagaimana sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a: “Tidak akan masuk surga hingga kamu beriman, dan tidak beriman hingga kamu saling mencintai. Dan maukah aku tunjukkan suatu perbuatan yang bisa membuatmu saling mencintai; yaitu terbarkanlah salam diantara sesamamu.” [HR Muslim]

KEISTIMEWAAN SALAM
1. Merupakan amalan yang terbaik dalam Islam
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash r.a. bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw: “Amalan apakah yang terbaik dalam Islam?” Beliau saw menjawab: “Memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang telah kamu kenal maupun yang belum kamu kenal.” (HR Bukhori. No.12)

2. Mendapatkan berkah dan kebaikan dari Allah SWT
Sebagaimana firman-Nya:

فَإِذَا دَخَلْتُم بُيُوتاً فَسَلِّمُوا عَلَى أَنفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِندِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً كَذَلِكَ يُبَ يِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُون
“Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya..” (QS An-Nur [24]:61)

3. Termasuk perbuatan yang dapat memasukkan pelakunya ke dalam surga
Abu Yusuf Abdullah bin Salam r.a., berkata: “Saya pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Wahai manusia, tebarkanlah salam, berikanlah makan, lakukanlah shilaturarahim, dan shalatlah ketika orang lain tidur malam; maka engkau akan masuk ke surga dengan selamat.” (HR Tirmidzi: 2485, Ibnu Majah: 1334, dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shohih Sunan Ibnu Majah: 1097)

UCAPAN DAN JAWABAN SALAM YANG PALING BAIK

Al-Imam An-Nawawi r.a. menuturkan: “Disunnahkan bagi orang yang memulai salam mengucapkan Assálamu’alaikum warahmatullah, dengan memakai dhomir jamak (kum,) sekalipun sendirian. Dan menjawabnya dengan ucapan Wa’alaikumus-salám warahmatullahi wabarakátuh, dengan menambah wa pada kata wa’alaikum.” [Riyadhush-Sholihin: 274]

Oleh karena itu, orang yang mendapatkan salam wajib menjawabnya dengan yang lebih baik atau semisal dengan salam yang dia terima. Sebagaimana firman Allah SWT:

وَإِذَا حُيِّيْتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّواْ بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيباً
Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS An-Nisa’ [4]:86)

SIAPAKAH YANG LEBIH BERHAK MEMULAI SALAM?

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. Bersabda: “Orang yang berkendaraan hendaklah memberi salam kepada pejalan kaki, Anak kecil mengucapkan salam kepada orang yang lebih tua, orang yang lewat memberi salam kepada yang duduk, dan orang yang jumlahnya sedikit memberi salam kepada yang jumlahnya lebih banyak.” (HR Bukhari:6231-Shahih Muslim:2021)

WAKTU MENGUCAPKAN SALAM

1. Ketika akan memasuki rumah orang lain
Allah SWT telah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتاً غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS An-Nur [24]:27) .

Begitu pula ketika memasuki rumah sendiri, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat an-Nur [24] ayat 61.

2. Ketika masuk dan keluar dari sebuah majelis
Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a bahwasanya Rasulullah saw. bersabda (artinya): “Apabila seseorang masuk ke sebuah majelis maka hendaklah mengucapkan salam, dan jika dia mau pergi hendaklah mengucapkan salam. Tidaklah (salam) yang pertama tadi lebih berhak (untuk) di ucapkan daripada yang akhir.” [HR. Abu Dawud: 5208, Tirmidzi:2706, Bukhari dalam Adabul Mufrad:1008, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shohihah:183]

Di antara tanda-tanda dekatnya hari kiamat ialah mengucapkan salam hanya kepada orang yang dikenalnya saja. Sebuah kenyataan yang tak dapat kita pungkiri lagi pada zaman sekarang ini, banyak orang yang hanya mau mengucapkan salam kepada orang-orang yang dikenalnya saja. Perilaku seperti ini bertentangan dengan sunnah Rasulullah SAW sebab beliau menganjurkan menebarkan salam kepada orang yang dikenal maupun yang tidak dikenal. Tidakkah mereka menyadari sabda Rasulullah SAW:

Sesungguhnya di antara tanda-tanda dekatnya hari kiamat ialah manusia tidak mau tidak mau mengucapkan salam kepada orang lain kecuali yang dikenalnya saja.” [HR. Ahmad dalam Musnad-nya: 1/387, dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shohihah:348].

ETIKA MENUCAPAN SALAM

1. Makruh memberi salam dengan ucapan ‘Alaikassalàm
Perhatikan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh shahabat Jabir bin Sulaim r.a, ia menuturkan: Aku pernah menjumpai Rasulullah saw., maka aku berkata: “ ’Alakaikassalàm ya Rasulullah saw.” Maka beliau saw., menjawab: “Jangan kamu mengatakan ’Alakaikassalàm, tetapi ucapkanlah: ” A’ssalamu’alaika.”

Dan di dalam riwayat Abu Dawud disebutkan: “karena sesungguhnya ucapan ’Alakaikassalàm itu adalah untuk orang-orang yang sudah mati.” [HR. Tirmidzi:2722, Abu Dawud:5209 dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shohih Sunan Abu Dawud:2/516].

2. Dianjurkan mengucapkan salam tiga kali
Dianjurkan mengucapkan salam dengan mengulangnya sebanyak tiga kali jika di khalayak ramai atau terhadap orang yang ketika disampaikan salam ia tidak mendengarnya. Di dalam hadits riwayat Anas r.a. disebutkan bahwa: Rasulullah saw apabila mengucapkan kalimat maka beliau mengulangnya tiga kali, dan apabila mendatangi suatu kaum maka beliau mengucapkan salam kepada mereka tiga kali. “ [HR.Bukhori:6244]

Imam Nawawi rah.a mengatakan: “Hadits ini mengandung kemungkinan jika di khalayak ramai yang sebagian mereka tidak mendengarnya dan bermaksud untuk memperjelas.” [Kitabul Adab:43, dinukil dari kitab Riyadush Sholihin:291]

3. Tidak boleh memulai salam kepada orang kafir
Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Jangan kamu memulai mengucapkan salam kepada Jahudi dan Nashrani.” (Shahih Muslim: 2029). Dan jika mereka mengucapkan salam kepada kita, cukup dijawab dengan ucapan “Wa’alaikum”, sebagaimana hadits yang bersumber dari Anas bin Malik r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda: “Apabila ahli kitab mengucapkan salam kepada kalian maka ucapkanlah “Wa’alaikum.” [HR. Bukhari:6258; Shahih Muslim:2026]

Apabila di sebuah majelis bercampur antara orang muslim dan non-muslim maka kita boleh mengucapkan salam. Demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah saw ketika melewati sebuah majelis yang di dalamnya ada orang muslim, musyrik, penyembah berhala, beliau mengucapkan salam. [HR.Bukhori:6254, Muslim:2168]

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Dinar r.a bahwasanya dia mendengar Ibnu Umar bertanya kepada Rasulullah saw., maka beliau saw., menjawab: “Orang-orang Yahudi, bila mereka memberi salam kepadamu, maka ada salah seorang di antara mereka yang mengucapkan:”Assamu ‘alaikum” (racun untukmu), maka jawablah “’Alaika

4. Sunnah mengucapkan salam kepada anak kecil
Hal ini adalah untuk mendidiknya sejak kecil dengan adab-adab yang Islami dan membiasakan diri untuk mengikuti sunnah Rasulullah saw. Shahabat Anas bin Malik r.a. telah mengabarkan “bahwa ia pernah berjalan bersama Rasulullah saw, kemudian tatkala melewati anak-anak kecil beliau mengucapkan salam kepada mereka.” [Shahih Muslim:2030]

5. Larangan mengucapkan dan menjawab salam saat buang hajat
Dari al-Muhajir bin Qunfudz r.a., bahwasanya ia mendatangi Rasulullah saw dan memberi salam saat beliau buang air kecil, Beliau saw tidak menjawab salamnya sampai beliau berwudhu, kemudian beliau saw meminta maaf kepadanya seraya bersabda: “Aku tidak suka menyebut nama Allah SWT kecuali dalam keadaan suci.” [HR.Abu Dawud:17, Nasa-i:38 dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shohih Sunan Abu Dawud: 13].

Apabila ada orang yang menitipkan salam, maka yang menerima titipan salam tersebut mengatakan “Wa’alaihissalàm warohmatullahi wabarokàtuh”, sebagaimana yang dilakukan oleh ‘Aisyah r.a. ketika meneima titipan salam dari Jibril as. Lewat Rasulullah saw.” [HR Bukhari: 6253]

Demikianlah wahai saudaraku, semoga risalah yang singkat ini bermanfaat bagi kita semua. Marilah kita tebarkan salam kepada sesame muslim, karena dengan inilah akan timbul rasa cinta dan kasih saying . Jangan sampaiseorang muslim bertemu dengan muslim lainnya menampakkan sikap acuh tak acuh atau cuek , atau mengucapkan perkataan yang tak layak untuk di ucapkan oleh seorang muslim.

Alhamdulillah, puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah Azza wa Jalla. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw.beserta keluarga dan shahabatnya.


إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً 
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” 
(QS Al-Ahzab [33]:56)



[Dari: Mukhlis Abu Dzar]

Senin, 30 Agustus 2010

SIKAP YANG AMANAH



Jika orang mau memperhatikan syariat Islam dan seluruh ajarannya, maka dia akan mendapati bahwa keseluruhannya tidak lain adalah untuk kemashlahatan (kebaikan) dan kebahagiaan manusia.

Salah satu perilaku dan pengajaran tertinggi di dalam Islam adalah diwajibkannya sifat amanah, yang ini merupakan perbendaharaan agama Islam, kekayaan yang sangat mendasar dan bahkan "agama itu pun merupakan amanah".

Ada tiga kata sepadan yang semuanya dibentuk dari huruf alif, mim dan nun, ketiganya memiliki hubungan yang erat, yaitu aman, amanah dan iman dan makna ketiganya hampir serupa yaitu menunjukkan kepada ketenangan atau tuma’ninah.

Amanah menunjukkan pada kepercayaan, dan kepercayaan adalah ketenangan, sedang aman adalah hilangnya rasa takut dan ini juga berarti ketenangan, kemudian iman bermakna pembenaran dan ketetapan (iqrar) serta amal perbuatan, yang didalamnya terdapat pula ketenangan.

Oleh karena itu Allah menyebut hamba-Nya dengan sebutan mukmin karena hanya orang mukmin saja yang dapat memelihara amanat Allah, menunaikan serta memegangnya dengan erat, sebagaimana difirmankan oleh Allah;

وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ 
"Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya". (QS. Al-Mu'minum[23]:8)

Dalam konteks perilaku kehidupan sehari-hari amanah memilki arti tumbuhnya sikap untuk memelihara dan menjaga apa saja yang menjadi perjanjian atau tanggungan manusia berupa benda nyata atau yang bersifat maknawi. Hal ini seperti yang ditunjukkan di dalam sabda nabi SAW; “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan ditanya tentang kepemimpinannya.”

Maka amanah memiliki makna yang sangat luas yang mencakup seluruh hubungan muamalah dan hak-hak pihak lain yang harus ditunaikan. Maka secara garis besar amanah terbagi menjadi tiga bagian: 

Amanah dalam Menunaikan Hak-hak Allah Azza wa Jalla.
Yaitu dengan men-Tauhidkan-Nya, meng-Esakan-Nya di dalam beribadah, mengerjakan apa yang DIA perintahkan dan menjauhi apa yang DIA larang, semata-mata untuk mengharapkan keridhaan Allah SWT semata. Ini merupakan amanah yang terbesar, yang setiap hamba wajib melaksanakannya pertama kali sebelum amanah-amanah yang lain. Dan darinya akan muncul seluruh bentuk amanah yang lain.

Amanah dalam Nikmat yang Diberikan Allah.
Seperti nikmat pendengaran, penglihatan, pemeliharaan, harta dan anak-anak. Juga amanah badan dan segala isinya, kepala dan kemampuan otaknya untuk berfikir. Maka setiap mukallaf wajib menggunakan nikmat-nikmat tersebut sesuai fungsinya yang Allah ciptakan dan dalam rangka menunaikan perintah-perintah Allah.

Apabila anggota badan, kesehatan, harta dan seluruh nikmat yang kita terima digunakan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, maka berarti kita telah merealisasikan amanah serta menunaikan sesuai tuntutannya. Dan sebagai balasannya maka Allah akan menjaga dan memelihara orang yang berbuat demikian dan juga menjaga nikmat tersebut. 

Nabi saw bersabda, artinya,“Jagalah Allah maka Dia akan menjagamu, jagalah Allah maka dia akan kau dapati dihadapanmu.”

Seorang salaf berkata, “Barang siapa bertakwa kepada Allah maka dia telah menjaga dirinya sendiri, dan barang siapa menyia-nyiakan ketakwaan kepada-Nya maka berarti dia menyia-nyiakan dirinya sendiri, sedangkan Allah tidak pernah membutuhkannya.”

Oleh karenanya siapa saja yang menunaikan amanah dalam menjaga batasan-batasan Allah serta memelihara hak-hak Nya, baik yang berkaitan dengan dirinya atau apa yang diberikan oleh Allah berupa nikmat, harta dan sebagainya maka Allah akan menjaganya untuk kebaikan agama dan dunianya. Sebab balasan itu sesuai dengan amal usaha seseorang sebagaimana firman AllahSWT:

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُواْ نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُواْ بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ
"Hai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk). (QS. Al-Baqarah [2]:40)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad [47]:7)

Amanah dalam Menunaikan Hak Sesama Manusia
Seperti titipan, harta, rahasia, aib dan kehormatan dan lain sebagainya. Al Qur’an telah menyebutkan tentang keutamaan sifat amanah dalam banyak ayat, yang sekaligus menganjurkan kepada kita untuk memelihara dan menjaganya.

Diantaranya adalah firman Allah SWT; 
وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya,Juga firman Allah yang menyebutkan sifat-sifat orang mukmin yang berhak mendapatkan surga FirdausDan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya". (QS. Al-Mu'minun [23]:8)

Berkaitan dengan amanah ada sebuah ayat yang sangat mulia yang menceritakan tentang tawaran Allah kepada langit , bumi dan gunung untuk memikul amanah, namun mereka semua enggan karena merasa tidak mampu, lalu amanah tersebut dipikul oleh manusia. Allah swt berfirman:

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُوماً جَهُولاً
"Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh." (QS. al-Ahzab [33]:72)

Dalam ayat ini terkandung penjelasan tentang beratnya amanah dan beban yang harus ditanggung oleh manusia, dimana langit, bumi dan gunung sebagai makhluk Allah yang perkasa dan kuat merasa lemah dan enggan untuk memikul amanah itu, takut dan khawatir jikalau tidak sanggup menunaikannya.

Akan tetapi manusia menawarkan diri untuk memikul amanah tersebut,dan dengan itu manusia berarti telah berlaku zhalim terhadap diri sendiri, sekaligus telah bersikap bodoh terhadap berbagai konskwensi yang begitu banyak dari amanah itu, berupa kerja keras sehingga tidak menjadikannya terjerumus ke dalam siksa.

Oleh karenanya siapa saja yang menerima amanah ini, menjaganya serta menunaikan hak-haknya maka dia mendapatkan kemenangan dan pahala yang besar. Dan barang siapa yang menyia-nyiakannya, menelantarkan hak-haknya maka dia akan merugi dan mendapatkan siksa.

Maka dalam lanjutan ayat Allah menjelaskan tiga golongan manusia dalam menunaikan amanah tersebut, yaitu munafik, musyrik dan mukmin.

لِيُعَذِّبَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوبَ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً
“Sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mu'min laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Ahzab [33]:73)

Orang musyrik menyia-nyiakan amanah secara lahir dan batin, orang munafik menyia-nyiakan amanah secara batin meskipun secara lahirnya terlihat menunaikan amanah sedangkan orang mukmin menjaga amanah Allah secara lahir dan batin.

Ada satu hal yang perlu diperhatikan tentang kengganan langit, bumi dan gunung, yang berbeda dengan keengganan iblis ketika diperintahkan sujud terhada Adam as. Perbedaanya adalah bahwa keengganan langit, bumi dan gunung adalah timbul dari kelemahan dan ketidakmampuan sedangkan keengganan iblis karena menolak dan takabbur (sombong).

Hal yang kedua adalah bahwa yang disampaikan kepada langit,bumi dan gunung adalah tawaran yang disitu ada pilihan sedangkan yang disampaikan kepada iblis adalah perintah wajib yang harus, tidak ada pilihan lain selain patuh.

Beberapa Pelajaran Seputar Amanah 
  • Amanah adalah akhlak yang bersifat utuh, tidak bisa hanya dilaksanakan sebagiannya saja. Maka orang yang amanah terhadap yang sedikit dan berkhianat terhadap yang banyak dia adalah khianah. Orang yang amanah dalam satu kondisi lalu berkhianat dalam kondisi yang lain maka berarti tidak amanah. 
  • Amanah adalah akhlak dan ciri keimanan. Dengan pendidikan keimanan dia akan menjadi baik dan bersih yaitu dengan menumbuhkan rasa kedekatan Allah, yang tak satupun tersembunyi di hadapan Allah, serta takut ketika ditanya di hadapan Allah. Orang yang amanah hanya ketika ada orang lain berarti dia belum merealisasikan amanah. 
  • Amanah adalah bekal paling besar dan paling baik yang dimiliki seseorang, jika seseorang terpercaya di dalam amanahnya maka itu merupakan kekayaan di dunia sebelum nanti di akhirat.
  • Amanah adalah kekuatan, dalam pengaruh dan kekuasaan, kemuliaan dan kecukupan, bahkan merupakan kekuatan jiwa sehingga tidak lemah dan tunduk terhadap hawa nafsu dan segala yang membawa kepada kebinasaan.

Lawan amanah adalah khianah yaitu meninggalkan dan menyembunyikan yang hak dan yang seharusya disampaikan. Dan ini merupakan karakter utama orang munafik sebagaimana di dalam hadits yang masyhur, Nabi saw bersabda, artinya,“Tanda-tanda orang munafik ada tiga, “Jika berbicara dusta, jika berjanji mengingkari, dan jika dipercaya berkhianat.”

Macam-macam Khianat:
Allah swt berfirman; 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَخُونُواْ اللّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُواْ أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
"Hai orang-orang beriman, janganlah kamu,mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui." (QS. Al-Anfal [8]:27)

Berdasar ayat ini, ada tiga macam khianat, yaitu:
  1. Khianat terhadap hak-hak Allah swt, yang paling besar adalah kufur dan syirik kemudian setelah itu disusul dengan fusuq (kefasikan) dan ‘ishyan (kemaksiatan).Tauhid,shalat, puasa, ikhlas,zakat, ruku’, sujud, mandi janabah adalah contoh amanat seorang hamba di hadapan Allah swt, yang harus ditunaikan dengan benar dan tidak boleh dikhianati.
  2. Khianat terhadap hak-hak Rasul saw, yaitu dengan meremehkan sunnah-sunnah dan pengajarannya, ghuluw (berlebihan) di dalam mengagungkan beliau, meninggalkan sunnah dan melakukan bid’ah atau membuat hal-hal baru di dalam agama padahal tidak pernah diajarkan oleh beliau Saw. 
  3. Khianat terhadap hak-hak sesama manusia, seperti khianat di dalam harta, kehormatan atau nasihat terhadap mereka. 

Amanah terhadap sesama manusia amat banyak, diantaranya adalah amanat anak, o ang tua, kerabat, suami-istri, tetangga, amanah dalam jual beli, berbicara, pekerjaan, ilmu, nasihat, dan lain sebagainya. 

"Semoga Allah menolong kita semua untuk dapat melaksanakan amanah kehidupan ini".
Amiin.

Wallahu 'alam bishawwab.


Sumber: ”Al-Amanah, mafhumuha,shuwaruha,tsamaratuha.”
Asma’ binti Rasyid ar- Ruwaisyid.

QANAAH DAN BERSYUKUR




Dalam Hadits Qudsi, Allah Ta'ala berfirman: “Barang siapa sudi menerima bagian yang telah AKU berikan untuknya (Qonaah & bersyukur) maka, Rezekinya AKU beri "keberkahan” dan harta benda duniawi pun memaksa diri untuk mendatanginya walaupun ia tidak menginginkannya."

Marilah kita contoh Nabiullah Sulaiman AS yang dikarunia Allah menjadi manusia sangat kaya raya yang tidak ada tolok bandingnya. Allah SWT telah mengabulkan doa-doanya untuk menjadi manusia terkaya di muka bumi, dan sepeninggalnya tidak akan pernah ada satu manusia pun yang memiliki kekayaan sebanyak dirinya.

Dengan seluruh kekayaan dan segala kelebihan yang dimilikinya yang merupakan karunia Allah Ta'ala; yaitu kemampuan untuk memerintah golongan jin dan binatang; mampu berbahasa binatang; mampu menundukkan angin; dan mampu mengendarai awan, namun beliau AS tidak pernah berhenti mensyukuri segala nikmat yang di karuniakan Allah padanya.

Dalam Surat An-Naml [27] ayat 40, Allah berfirman tentang Nabi Sulaiman yang artinya adalah:

قَالَ الَّذِي عِندَهُ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَن يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرّاً عِندَهُ قَالَ هَذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ
"Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan ni'mat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia."

يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِن مَّحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَّاسِيَاتٍ اعْمَلُوا
آلَ دَاوُودَ شُكْراً وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
"Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih." (QS Saba' [34]:13)
Dalam Hadits Qudsi Allah SWT berfirman:
“Hai anak Adam! Rezeki adalah Rezeki-KU, Puji, syukur, hanya untuk diri-KU, sedangkan manfa’atnya kembali kepadamu. Mengapa kamu tidak mau bersyukur kepada-KU atas segala ni’mat yang AKU berikan padamu? Hai anak Adam! Sampai kapan kamu mengumpulkan harta dunia, padahal ia bakal Fana? Dan kamu hancurkan akhirat, padahal ia adalah Kekal?"
Renungkanlah Firman-firman Allah berikut ini:

Karena Rahmat dan kasih sayang-Nya kepada makhluk-Nya, Allah Azza wa Jalla telah menggilirkan Siang dan malam menurut orbitnya yang teratur, di mana dengan adanya pergantian siang dan malam, manusia dapat mencari rizki pada siang hari dan beristrirahat pada malam harinya.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni'mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS Ibrahim [14]: 7) 

وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ قَلِيلاً مَّا تَشْكُرُونَ
"Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur." (QS Al-A'raf [7]:10)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُلُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُواْ لِلّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukur-lah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah." (QS Al-Baqarah [2]: 172)

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلاَّ بِإِذْنِ الله كِتَاباً مُّؤَجَّلاً وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا
وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ الآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ
"Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (QS Ali-Imran [3]: 145)

Firman Allah SWT:

وَمِن رَّحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِن فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
"Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya." (QS Al-Qashash [28]:73)

Pernahkah kita merenungkan apa jadinya dunia yang kita tempati ini seandainya tidak ada rotasi bumi dan planet lainnya?
Mampukah kita bertahan hidup?
Jawabannya adalah: TIDAK!

Selama milyaran tahun, bumi berputar melalui porosnya mengeliling matahari sedangkan bulan berotasi mengelilingi bumi yang dengannya kita bisa menghitung hari dan menetapkan tanggal. Pada siang hari di bagian bumi yang menghadap matahari, maka di bagian bumi yang lain, terjadi malam, sehingga seluruh daratan bumi memperoleh matahari dan bila matahari terbenam, kita akan dapat menikmati keindahan bulan yang secara perlahan berubah dari bentuk sabit sehingga menjadi purnama yang indah gilang gemilang.

Sekiranya bumi, bulan, matahari, dan seluruh planet yang ada di alam semesta ini berhenti berputar (tidak berotasi), dapat dipastikan bahwa belahan bumi yang terkena sinar matahari, atau terjadinya siang yang berkepanjangan (tanpa adanya malam) itu, akan megalami kenaikan suhu udara yang ekstrim. Sehari berlalu panasnya sudah di atas suhu normal. 2-3 hari kemudian hutan-hutan pun mulai terbakar dan dalam tempo seminggu saja, kemungkinan besar air laut mulai mendidih, begitu juga dengan darah yang mengalir disekujur tubuh manusia ikut menggelegak dan pada saat seperti, maka tidak ada satu makhluk-pun yang mampu bertahan hidup!

Begitu juga kondisi yang terjadi pada bagian bumi yang sama sekali tidak terkena cahaya matahari, atau terjadi malam terus menerus (tanpa adanya siang), suhu udara semakin lama akan menjadi semakin dingin, bahkan segera membeku. Seminggu kemudian air laut dan semua cairan yang ada di belahan bumi itu menjadi beku. Mungkin manusia masih bisa berlindung di dalam rumah atau goa untuk beberapa lama, tapi apa yg terjadi kalau suhu udara di luar sudah mencapai titik minus (-) 1000 derajat DI BAWAH NOL? Masih mungkinkah ada makhluk yg mampu bertahan hidup?

Firman Allah SWT dlm Surat An-Nahl, ayat 12:

وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالْنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالْنُّجُومُ مُسَخَّرَاتٌ بِأَمْرِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
"Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya),"

Subhanallah!

Walhamdulillah wa ilaha illallah Allahu Akbar, lahaula wala quwata ila billahil'aliyul adziim.
Alhamdulillah, segala puja dan puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah Robbul ‘Alamin.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shalallaahu Alaihi Wassallam beserta keluarga, istri, para shahabatnya serta pengikut mereka dalam kebajikan hingga datangnya hari pembalasan nanti.

إِنّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِي ماً
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, ber-Shalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah Salam penghormatan kepadanya.” (QS Al-Ahzab [33]:5)




BERBUAT BAIK DISUKAI ALLAH





Para pembaca yang mulia, 
Semoga Allah SWT senantiasa menjaga kita diatas agama yang lurus, agama yang Haq dan yang di ridhoi-Nya. “Inad- diina indal laahil islam”

Segenap puji dan syukur diperuntukkan hanya bagi Allah ‘Azza wa alla, karena dengan taufiq dan ‘inayah-Nya jualah yang telah menggerakkan hati kami untuk selalu berusaha menyampaikan yang haq, meskipun hanya berupa sepenggal ayat maupun hadits.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, utusan Allah yang menjadi rahmat bagi sekalian alam, yaitu baginda Nabi Muhammad Shalallaahu Alaihi Wassallam, juga kepada keluarga (ahlul bait)nya serta seluruh umat yang setia mengikuti risalah yang dibawa oleh beliau Shalallaahu Alaihi Wassallam sampai akhir jaman.

إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
"Dan berbuat baiklah (ihsan), karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (Al-Baqarah [2]: 195). 

Ali bin al-Husain memiliki hamba sahaya perempuan. Suatu hari sang budak menuangkan air wudu untuknya. Tanpa disengaja, ceret, tempat air wudhu, jatuh menimba wajah Ali hingga terluka. Ali Zainal Abidin dengan marah menatap wajah sang budak. Merasa bersalah sang budak berkata, (mengutip surah Ali Imran ayat 134 yang menyebutkan kriteria orang bertakwa), "Sesungguhnya Allah berfirman, 'Wal kaazimiinal ghaidl,' (Dan orang yang menahan amarahnya)." Ali menjawab, "Aku telah menahan amarahku." Hamba sahaya berkata lagi, "Wal 'aafiina 'anin nas" (Dan orang-orang yang memberikan maafnya). Ali menimpali, "Semoga Allah memaafkan kamu." Ia berkata lagi, "Wallahu yuhibbul muhsiniin" (Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan). Ali membalas, "Engkau telah kubebaskan karena Allah Azza wa Jalla." (Al-Bidayah IX/112). 

Subhanallah! sungguh sebuah sikap yang mengagumkan. Amarah yang berhenti dalam sekejab karena dibacakan ayat, disusul pemberiaan maaf, bahkan pembebasan budak karena dorongan berbuat ihsan. Tercermin sebuah kematangan emosi, pengagungan akan ayat Allah, dan sikap memilih dan melakukan yang terbaik (ahsanahu). 

Itulah profil muslim. Karena, Islam dibangun di atas tiga pilar: Islam, iman, dan ihsan. "Tadi adalah Malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan persoalan din kepada kalian." Itulah jawaban Rasulullah ketika malaikat datang dan bertanya perihal Islam, iman dan ihsan. Jadi, dinul Islam dibangun di atas ketiganya. 

Perbuatan ihsan itu banyak bentuk dan ragamnya. Ihsan dalam hal ibadah, seperti jawaban Rasulullah saw. kepada Jibril, "Ihsan adalah hendaklah engkau beribadah kepada Allah seperti engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu." (HR Muslim). Ihsan dalam ibadah adalah adanya rasa selalu diawasi Allah Taala ketika menunaikannya, seolah ia melihat Allah, atau minimal merasakan bahwa Allah melihatnya. Untuk itu, harus dilakukan dengan menyempurnakan syarat, rukun, sunah dan tata-caranya. Karena, ibadah tidak akan dilihat oleh Allah jika menyelisihi tata-cara yang disyariatkan. Demikian ditulis oleh Abu Bakar al-Jazairi dalam Minhajul Muslim. Beliau juga menilis bentuk-bentuk berbuat ihsan dalam bidang muamalah, misalnya dengan berbuat baik kepada orang tua, sanak keluarga, anak yatim, orang miskin, musafir, pembantu, manusia secara umum dan hewan, seperti tersebut dibawah ini. 

Berbuat baik kepada orang tua bisa dengan menaatinya, memberikan kebaikan kepada keduanya, tidak menyakiti keduanya, mendoakan keduanya, memintakan ampun untuk keduanya, melaksanakan wasiat-wasiat keduanya dan menghormati teman-teman keduanya. 

Berbuat baik kepada sanak keluarga misalnya dengan menyayangi mereka, lemah lembut terhadap mereka, mengerjakan perbuatan baik bersama mereka, tidak melakukan tindakan-tindakan yang menyusahkan mereka dan tidak menjelek-jelakkan ucapan mereka. 

Berbuat baik kepada anak yatim ialah dengan menjaga harta mereka, melindungi hak-hak mereka, mendidik mereka, membina mereka, tidak menyakiti mereka, tidak memaksa mereka, ceria di depan mereka, dan mengusap kepala mereka. 

Berbuat baik kepada orang-orang miskin adalah dengan menghilangkan kelaparan mereka, menutup aurat mereka, menganjurkan manusia memberi makan kepada mereka, tidak mencaci kehormatan mereka, tidak menghina mereka, dan tidak menimpakan kesusahan kepada mereka. 

Berbuat baik kepada musafir ialah dengan memenuhi kebutuhannya, menutup aibnya, menjaga hartanya, melindungi kemuliannya, memberinya petunjuk jika ia meminta petunjuk, dan menunjukkannya jika tersesat. 

Berbuat baik kepada pembantu adalah dengan menggajinya sebelum keringatnya kering, tidak menyuruhnya mengerjakan pekerjaan yang tidak mampu dikerjakan, menjaga kemuliaannya, dan menghormati kepribadiannya. Jika pembantu tersebut menetap di rumah yang dibantu, baginya memberi makan seperti yang ia makan, memberi pakaian seperti yang ia kenakan. 

Berbuat baik kepada manusia secara umum antara lain dengan berkata lembut kepada mereka, mempergauli mereka dengan pergaulan yang baik setelah sebelumnya menyuruh mereka kepada kebaikan, melarang mereka dari kemungkaran, memberi petunjuk kepada orang yang tersesat di antara mereka, mengajari orang jahil di antara mereka, mengakui hak-hak mereka, tidak mengganggu mereka dengan mengerjakan tindakan yang membahayakan mereka dan lain sebagainya. 

Berbuat baik kepada hewan adalah dengan memberinya makan jika lapar, mengobatinya jika sakit, tidak membebani dengan muatan yang tidak mampu ditanggungnya, lemah lembut terhadapnya jika bekerja, dan mengistirahatkannya jika lelah. 

Begitulah bentuk-bentuk ihsan. Semoga kita tergolong dalam barisan muhsinin yang dicintai Allah, seperti dalam firman di atas, 

إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
"Dan berbuat baiklah (ihsan), karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (Al-Baqarah [2]: 195). 

Wallahu a'lam bish shawab.